* You are viewing the archive for September, 2008

Tuhan pun turut menangis dengan bangga

pengarang : unknown

Saat itu adalah musim panas dimana hujan belum turun hampir satu bulan lamanya.
Tanaman jagung hampir mati. Sapi-sapi tidak menghasilkan susu.

Sungai-sungai mengering seperti menyusut ke dasar bumi. Itu adalah musim kering
yang cukup parah bahkan ada kemungkinan sebelum musim panas berakhir banyak dari
para petani sudah harus mengalami kebangkrutan.

Setiap hari suamiku dan adik laki-lakinya berusaha semaksimal mungkin mengairi
ladang kami walau dengan proses yang amat sukar. Dan akhirnya proses ini
melibatkan sebuah truk yang harus di bawa ke pabrik penyimpan air setempat dan
mengisinya dengan air.

Namun tindakan penjatahan yang ketat ini telah membuat banyak orang kesusahan.

Seandainya hujan tidak turun juga dengan segera … kami akan kehilangan segalanya.

Hari itu adalah hari dimana aku boleh mendapatkan satu pelajaran yang sangat
berharga tentang memberi dan aku menyaksikan sendiri mujizat yang terjadi.

Saat itu aku sedang di dapur menyiapkan makan siang ketika aku melihat anak laki-lakiku,
Billy, yang berumur enam tahun sedang berjalan ke hutan. Langkahnya tidak
seperti anak kecil pada umumnya tapi seperti sedang berjalan dengan satu tujuan
yang sangat penting sekali.

Aku hanya bisa melihat punggungnya saja.

Jelas sekali dia berjalan dengan upaya yang cukup besar … mencoba untuk
semaksimal mungkin berjalan dengan tenang. Baru sebentar dia menghilang di dalam
hutan, dengan segera dia sudah terlihat kembali sambil berlari dengan kencang
menuju rumah. Saat itu aku tidak terlalu perduli, aku pikir urusannya sudah
selesai dan kembali meneruskan kegiatanku. Tetapi, sesaat kemudian, kembali aku
melihat Billy, sekali lagi dengan langkah-langkahnya yang diupayakan tetap
tenang sedang berjalan menuju hutan.

Hampir satu jam dia melakukan hal itu: berjalan dengan sangat hati-hati ke hutan,
lalu kembali ke rumah dengan berlari. Akhirnya setelah mengamati sekian lama aku
tidak tahan lagi, aku langsung keluar mencoba untuk mengikutinya (namun berusaha
untuk tidak diketahui… sepertinya dia tidak ingin ibunya tahu pekerjaan
penting yang sedang dikerjakannya).

Dia berjalan dengan tangan yang sedang menangkup air, dan terus mencoba untuk
tidak menumpahkan satu tetespun … kemungkinan air ditangannya yang kecil itu
paling-paling hanya sebanyak dua atau tiga sendok makan. Aku berusaha untuk
mencoba lebih mendekat saat dia sedang berjalan menuju hutan. Ranting-ranting
pohon dan duri mengenai wajah kecilnya, tapi dia sama sekali tidak mencoba untuk
menghindar. Dia lebih memusatkan perhatiannya kepada tugas yang sedang dia
kerjakan.

Ketika aku sedang mengawasinya, disaat itulah aku melihat pemandangan yang
sangat luar biasa. Beberapa rusa besar bermunculan dihadapannya. Billy berjalan
tepat ke arah mereka. Hampir aku berteriak untuk menyuruhnya menjauh. Seekor
rusa jantan besar dengan tanduknya yang indah datang mendekat. Tapi rusa itu
tidak melakukan apa-apa…bahkan ketika Billy duduk berlutut.

Dan aku melihat seekor anak rusa kecil tergelak di tanah dan jelas sekali sedang
menderita dehidrasi dan keletihan yang amat sangat. Aku melihat anak rusa itu
dengan usaha yang keras mencoba mengangkat kepalanya untuk bisa menjilat air
dari tangan kecil anakku.

Ketika airnya habis, dengan segera Billy melompat berdiri untuk segera kembali
berlari ke rumah dan aku segera bersembunyi di balik pohon. Aku mengikutinya
kembali ke rumah dan dia berjalan menuju keran yang telah kami tutup. Billy
membukanya dan aliran air yang sangat kecil meluncur turun. Dia menadahkan
tangannya sambil berjongkok, menunggu air yang mengalir sangat lambat itu
memenuhi tangannya dan sinar matahari yang panas menyinari punggungnya.

Semua menjadi jelas sekarang: Minggu lalu dia telah bermain-main dengan selang
air dan telah membuang air dengan sia-sia. Dia harus menerima hukuman untuk hal
itu. Itulah sebabnya dia berusaha untuk tidak minta tolong kepadaku.

Membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit untuk air itu bisa memenuhi tangan
kecilnya. Setelah penuh dia berdiri dan mencoba untuk kembali ke hutan, disaat
itulah dia baru menyadari bahwa aku telah berada di hadapannya. Dengan air mata
yang hampir mengalir dia berkata, “aku nggak sedang buang-buang air,” katanya.

Ketika dia kembali memulai perjalanannya lagi, aku telah menemaninya…kali ini
dengan membawa mangkuk kecil yang sudah berisi air. Aku menunggunya dari jauh
dan membiarkannya memberi minum anak rusa itu. Itu adalah pekerjaannya. Aku
berdiri di pinggir hutan sambil memandangi sebuah hati yang luar biasa indah
yang dengan usaha yang besar sedang berusaha untuk menyelamatkan sebuah
kehidupan lain.

Ketika air mata membasahi wajahku, tiba-tiba aku merasakan ada tetesan air yang
lain menimpa wajahku, lagi, lagi dan lebih banyak lagi. Aku memandang ke langit
dan bisa merasakan bahwa Tuhan pun turut menangis dengan bangga.

Mungkin ada yang mengatakan bahwa itu hanyalah kebetulan.

Bahwa mujizat itu tidak ada. Bahwa kebetulan saja hujan memang harus turun.

Aku tidak dapat mendebatnya… dan tidak ingin melakukannya. Yang ingin aku
katakan hanyalah bahwa hujan hari itu sungguh-sungguh telah menyelamatkan
pertanian kami…seperti yang telah dilakukan seorang anak laki-laki kecil yang
telah menyelamatkan nyawa makhluk lain.

Take my life and let it be
consecrated, Lord, to Thee.
Take my moments and my days,
let them flow in ceaseless praise.
Take my hands and let them move
at the impulse of Thy love.
Take my feet and let them be
swift and beautiful for Thee.

Take my voice and let me sing
always, only for my King.
Take my lips and let them be
filled with messages from Thee.
Take my silver and my gold
not a mite would I withhold.
Take my intellect and use
every power as You choose.

::Chorus::
Here am I, all of me.
Take my life, it’s all for Thee.

Take my will and make it Thine
it shall be no longer mine.
Take my heart it is Thine own
it shall be Thy royal throne.
Take my love, my Lord I pour
at Your feet its treasure store
Take myself and I will be
ever, only, all for Thee.
Take myself and I will be
ever, only, all for Thee.

Here am I, all of me.
Take my life, it’s all for Thee.
x3

Bersyukur dalam keadaan

Dari tadi pagi hujan mengguyur kota tanpa henti, udara yang biasanya sangat panas, hari ini terasa sangat dingin. Di jalanan hanya sesekali mobil yang lewat, hari ini hari libur membuat orang kota malas untuk keluar rumah. Di perempatan jalan, Umar,seorang anak kecil berlari-lari menghampiri mobil yang berhenti di lampu merah, dia membiarkan tubuhnya terguyur air hujan, hanya saja dia begitu erat melindungi koran dagangannya dengan lembaran plastik.

“Korannya bu !”seru Umar berusaha mengalahkan suara air hujan.

Dari balik kaca mobil si ibu menatap dengan kasihan, dalam hatinya dia merenung anak sekecil ini harus berhujan-hujan untuk menjual koran. Dikeluarkannya satu lembar dua puluh ribuan dari lipatan dompet dan membuka sedikit kaca mobil untuk mengulurkan lembaran uang.

“Mau koran yang mana bu?, tanya Umar dengan riang.

”Nggak usah, ini buat kamu makan, kalau koran tadi pagi aku juga sudah baca”, jawab si ibu.

Si Umar kecil itu tampak terpaku, lalu diulurkan kembali uang dua puluh ribu yang dia terima, ”Terima kasih bu, saya menjual koran, kalau ibu mau beli koran silakan, tetapi kalau ibu memberikan secara cuma-cuma, mohon maaf saya tidak bisa menerimanya”, Umar berkata dengan muka penuh ketulusan.

Dengan geram si ibu menerima kembali pemberiannya, raut mukanya tampak kesal, dengan cepat dinaikkannya kaca mobil. Dari dalam mobil dia menggerutu ”Udah miskin sombong!”. Kakinya menginjak pedal gas karena lampu menunjukkan warna hijau. Meninggalkan Umar yang termenung penuh tanda tanya .

Umar berlari lagi kepinggir, dia mencoba merapatkan tubuhnya dengan dinding ruko tempatnya berteduh. Tangan kecilnya sesekali mengusap muka untuk menghilangkan butir-butir air yang masih menempel. Sambil termenung dia menatap nanar rintik-rintik hujan didepannya,

”Ya Tuhan, hari ini belum satupun koranku yang laku”, gumamnya lemah.

Hari beranjak sore namun hujan belum juga reda, Umar masih saja duduk berteduh di emperan ruko, sesekali tampak tangannya memegangi perut yang sudah mulai lapar. Tiba-tiba didepannya sebuah mobil berhenti, seorang bapak dengan bersungut-sungut turun dari mobil menuju tempat sampah,

”Tukang gorengan sialan, minyak kaya gini bisa bikin batuk”, dengan penuh kebencian dicampakkannya satu plastik gorengan ke dalam tong sampah, dan beranjak kembali masuk ke mobil.

Umar dengan langkah cepat menghampiri laki-laki yang ada di mobil.

”Mohon maaf pak, bolehkah saya mengambil makanan yang baru saja bapak buang untuk saya makan”, pinta Umar dengan penuh harap.

Pria itu tertegun, luar biasa anak kecil didepannya. Harusnya dia bisa saja mengambilnya dari tong sampah tanpa harus meminta ijin. Muncul perasaan belas kasihan dari dalam hatinya.

“Nak, bapak bisa membelikan kamu makanan yang baru, kalau kamu mau”

”Terima kasih pak, satu kantong gorengan itu rasanya sudah cukup bagi saya, boleh khan pak?, tanya Umar sekali lagi.

”Bbbbbooolehh”, jawab pria tersebut dengan tertegun.

Umar berlari riang menuju tong sampah, dengan wajah sangat bahagia dia mulai makan gorengan, sesekali dia tersenyum melihat laki-laki yang dari tadi masih memandanginya.

Dari dalam mobil sang bapak memandangi terus Umar yang sedang makan. Dengan perasaan berkecamuk didekatinya Umar.

”Nak, bolehkah bapak bertanya, kenapa kamu harus meminta ijinku untuk mengambil makanan yang sudah aku buang?, dengan lembut pria itu bertanya dan menatap wajah anak kecil didepannya dengan penuh perasaan kasihan.

”Karena saya melihat bapak yang membuangnya, saya akan merasakan enaknya makanan halal ini kalau saya bisa meminta ijin kepada pemiliknya, meskipun buat bapak mungkin sudah tidak berharga, tapi bagi saya makanan ini sangat berharga, dan saya pantas untuk meminta ijin memakannya ”, jawab si anak sambil membersihkan bibirnya dari sisa minyak goreng.

Pria itu sejenak terdiam, dalam batinnya berkata, anak ini sangat luar biasa.
”Satu lagi nak, aku kasihan melihatmu, aku lihat kamu basah dan kedinginan, aku ingin membelikanmu makanan lain yang lebih layak, tetapi mengapa kamu menolaknya”.

Si anak kecil tersenyum dengan manis,
Maaf pak, bukan maksud saya menolak rejeki dari Bapak. Buat saya makan sekantong gorengan hari ini sudah lebih dari cukup. Kalau saya mencampakkan gorengan ini dan menerima tawaran makanan yang lain yang menurut Bapak lebih layak, maka sekantong gorengan itu menjadi mubazir, basah oleh air hujan dan hanya akan jadi makanan tikus.”

”Tapi bukankah kamu mensia-siakan peluang untuk mendapatkan yang lebih baik dan lebih nikmat dengan makan di restoran dimana aku yang akan mentraktirnya”, ujar sang laki-laki dengan nada agak tinggi karena merasa anak didepannya berfikir keliru.
Umar menatap wajah laki-laki didepannya dengan tatapan yang sangat teduh,

”Bapak !, saya sudah sangat bersyukur atas berkah sekantong gorengan hari ini. Saya lapar dan bapak mengijinkan saya memakannya”, Umar memperbaiki posisi duduknya dan berkata kembali,

” Dan saya merasa berbahagia, bukankah bahagia adalah bersyukur dan merasa cukup atas anugerah hari ini, bukan menikmati sesuatu yang nikmat dan hebat hari ini tetapi menimbulkan keinginan dan kedahagaan untuk mendapatkannya kembali dikemudian hari.”
Umar berhenti berbicara sebentar, lalu diciumnya tangan laki-laki didepannya untuk berpamitan. Dengan suara lirih dan tulus Umar melanjutkan kembali,

”Kalau hari ini saya makan di restoran dan menikmati kelezatannya dan keesokan harinya saya menginginkannya kembali sementara bapak tidak lagi mentraktir saya, maka saya sangat khawatir apakah saya masih bisa merasakan kebahagiaannya”.

Pria tersebut masih saja terpana, dia mengamati anak kecil didepannya yang sedang sibuk merapikan koran dan kemudian berpamitan pergi.

”Ternyata bukan dia yang harus dikasihani, Harusnya aku yang layak dikasihani, karena aku jarang bisa berdamai dengan hari ini”

Selamat Menjalani Hari Dengan Penuh Rahmat


Cahyana Puthut Wijanarka

(People Developer)