* You are viewing the archive for September, 2008

Tuhan pun turut menangis dengan bangga

pengarang : unknown

Saat itu adalah musim panas dimana hujan belum turun hampir satu bulan lamanya.
Tanaman jagung hampir mati. Sapi-sapi tidak menghasilkan susu.

Sungai-sungai mengering seperti menyusut ke dasar bumi. Itu adalah musim kering
yang cukup parah bahkan ada kemungkinan sebelum musim panas berakhir banyak dari
para petani sudah harus mengalami kebangkrutan.

Setiap hari suamiku dan adik laki-lakinya berusaha semaksimal mungkin mengairi
ladang kami walau dengan proses yang amat sukar. Dan akhirnya proses ini
melibatkan sebuah truk yang harus di bawa ke pabrik penyimpan air setempat dan
mengisinya dengan air.

Namun tindakan penjatahan yang ketat ini telah membuat banyak orang kesusahan.

Seandainya hujan tidak turun juga dengan segera … kami akan kehilangan segalanya.

Hari itu adalah hari dimana aku boleh mendapatkan satu pelajaran yang sangat
berharga tentang memberi dan aku menyaksikan sendiri mujizat yang terjadi.

Saat itu aku sedang di dapur menyiapkan makan siang ketika aku melihat anak laki-lakiku,
Billy, yang berumur enam tahun sedang berjalan ke hutan. Langkahnya tidak
seperti anak kecil pada umumnya tapi seperti sedang berjalan dengan satu tujuan
yang sangat penting sekali.

Aku hanya bisa melihat punggungnya saja.

Jelas sekali dia berjalan dengan upaya yang cukup besar … mencoba untuk
semaksimal mungkin berjalan dengan tenang. Baru sebentar dia menghilang di dalam
hutan, dengan segera dia sudah terlihat kembali sambil berlari dengan kencang
menuju rumah. Saat itu aku tidak terlalu perduli, aku pikir urusannya sudah
selesai dan kembali meneruskan kegiatanku. Tetapi, sesaat kemudian, kembali aku
melihat Billy, sekali lagi dengan langkah-langkahnya yang diupayakan tetap
tenang sedang berjalan menuju hutan.

Hampir satu jam dia melakukan hal itu: berjalan dengan sangat hati-hati ke hutan,
lalu kembali ke rumah dengan berlari. Akhirnya setelah mengamati sekian lama aku
tidak tahan lagi, aku langsung keluar mencoba untuk mengikutinya (namun berusaha
untuk tidak diketahui… sepertinya dia tidak ingin ibunya tahu pekerjaan
penting yang sedang dikerjakannya).

Dia berjalan dengan tangan yang sedang menangkup air, dan terus mencoba untuk
tidak menumpahkan satu tetespun … kemungkinan air ditangannya yang kecil itu
paling-paling hanya sebanyak dua atau tiga sendok makan. Aku berusaha untuk
mencoba lebih mendekat saat dia sedang berjalan menuju hutan. Ranting-ranting
pohon dan duri mengenai wajah kecilnya, tapi dia sama sekali tidak mencoba untuk
menghindar. Dia lebih memusatkan perhatiannya kepada tugas yang sedang dia
kerjakan.

Ketika aku sedang mengawasinya, disaat itulah aku melihat pemandangan yang
sangat luar biasa. Beberapa rusa besar bermunculan dihadapannya. Billy berjalan
tepat ke arah mereka. Hampir aku berteriak untuk menyuruhnya menjauh. Seekor
rusa jantan besar dengan tanduknya yang indah datang mendekat. Tapi rusa itu
tidak melakukan apa-apa…bahkan ketika Billy duduk berlutut.

Dan aku melihat seekor anak rusa kecil tergelak di tanah dan jelas sekali sedang
menderita dehidrasi dan keletihan yang amat sangat. Aku melihat anak rusa itu
dengan usaha yang keras mencoba mengangkat kepalanya untuk bisa menjilat air
dari tangan kecil anakku.

Ketika airnya habis, dengan segera Billy melompat berdiri untuk segera kembali
berlari ke rumah dan aku segera bersembunyi di balik pohon. Aku mengikutinya
kembali ke rumah dan dia berjalan menuju keran yang telah kami tutup. Billy
membukanya dan aliran air yang sangat kecil meluncur turun. Dia menadahkan
tangannya sambil berjongkok, menunggu air yang mengalir sangat lambat itu
memenuhi tangannya dan sinar matahari yang panas menyinari punggungnya.

Semua menjadi jelas sekarang: Minggu lalu dia telah bermain-main dengan selang
air dan telah membuang air dengan sia-sia. Dia harus menerima hukuman untuk hal
itu. Itulah sebabnya dia berusaha untuk tidak minta tolong kepadaku.

Membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit untuk air itu bisa memenuhi tangan
kecilnya. Setelah penuh dia berdiri dan mencoba untuk kembali ke hutan, disaat
itulah dia baru menyadari bahwa aku telah berada di hadapannya. Dengan air mata
yang hampir mengalir dia berkata, “aku nggak sedang buang-buang air,” katanya.

Ketika dia kembali memulai perjalanannya lagi, aku telah menemaninya…kali ini
dengan membawa mangkuk kecil yang sudah berisi air. Aku menunggunya dari jauh
dan membiarkannya memberi minum anak rusa itu. Itu adalah pekerjaannya. Aku
berdiri di pinggir hutan sambil memandangi sebuah hati yang luar biasa indah
yang dengan usaha yang besar sedang berusaha untuk menyelamatkan sebuah
kehidupan lain.

Ketika air mata membasahi wajahku, tiba-tiba aku merasakan ada tetesan air yang
lain menimpa wajahku, lagi, lagi dan lebih banyak lagi. Aku memandang ke langit
dan bisa merasakan bahwa Tuhan pun turut menangis dengan bangga.

Mungkin ada yang mengatakan bahwa itu hanyalah kebetulan.

Bahwa mujizat itu tidak ada. Bahwa kebetulan saja hujan memang harus turun.

Aku tidak dapat mendebatnya… dan tidak ingin melakukannya. Yang ingin aku
katakan hanyalah bahwa hujan hari itu sungguh-sungguh telah menyelamatkan
pertanian kami…seperti yang telah dilakukan seorang anak laki-laki kecil yang
telah menyelamatkan nyawa makhluk lain.

Take my life and let it be
consecrated, Lord, to Thee.
Take my moments and my days,
let them flow in ceaseless praise.
Take my hands and let them move
at the impulse of Thy love.
Take my feet and let them be
swift and beautiful for Thee.

Take my voice and let me sing
always, only for my King.
Take my lips and let them be
filled with messages from Thee.
Take my silver and my gold
not a mite would I withhold.
Take my intellect and use
every power as You choose.

::Chorus::
Here am I, all of me.
Take my life, it’s all for Thee.

Take my will and make it Thine
it shall be no longer mine.
Take my heart it is Thine own
it shall be Thy royal throne.
Take my love, my Lord I pour
at Your feet its treasure store
Take myself and I will be
ever, only, all for Thee.
Take myself and I will be
ever, only, all for Thee.

Here am I, all of me.
Take my life, it’s all for Thee.
x3

Bersyukur dalam keadaan

Dari tadi pagi hujan mengguyur kota tanpa henti, udara yang biasanya sangat panas, hari ini terasa sangat dingin. Di jalanan hanya sesekali mobil yang lewat, hari ini hari libur membuat orang kota malas untuk keluar rumah. Di perempatan jalan, Umar,seorang anak kecil berlari-lari menghampiri mobil yang berhenti di lampu merah, dia membiarkan tubuhnya terguyur air hujan, hanya saja dia begitu erat melindungi koran dagangannya dengan lembaran plastik.

“Korannya bu !”seru Umar berusaha mengalahkan suara air hujan.

Dari balik kaca mobil si ibu menatap dengan kasihan, dalam hatinya dia merenung anak sekecil ini harus berhujan-hujan untuk menjual koran. Dikeluarkannya satu lembar dua puluh ribuan dari lipatan dompet dan membuka sedikit kaca mobil untuk mengulurkan lembaran uang.

“Mau koran yang mana bu?, tanya Umar dengan riang.

”Nggak usah, ini buat kamu makan, kalau koran tadi pagi aku juga sudah baca”, jawab si ibu.

Si Umar kecil itu tampak terpaku, lalu diulurkan kembali uang dua puluh ribu yang dia terima, ”Terima kasih bu, saya menjual koran, kalau ibu mau beli koran silakan, tetapi kalau ibu memberikan secara cuma-cuma, mohon maaf saya tidak bisa menerimanya”, Umar berkata dengan muka penuh ketulusan.

Dengan geram si ibu menerima kembali pemberiannya, raut mukanya tampak kesal, dengan cepat dinaikkannya kaca mobil. Dari dalam mobil dia menggerutu ”Udah miskin sombong!”. Kakinya menginjak pedal gas karena lampu menunjukkan warna hijau. Meninggalkan Umar yang termenung penuh tanda tanya .

Umar berlari lagi kepinggir, dia mencoba merapatkan tubuhnya dengan dinding ruko tempatnya berteduh. Tangan kecilnya sesekali mengusap muka untuk menghilangkan butir-butir air yang masih menempel. Sambil termenung dia menatap nanar rintik-rintik hujan didepannya,

”Ya Tuhan, hari ini belum satupun koranku yang laku”, gumamnya lemah.

Hari beranjak sore namun hujan belum juga reda, Umar masih saja duduk berteduh di emperan ruko, sesekali tampak tangannya memegangi perut yang sudah mulai lapar. Tiba-tiba didepannya sebuah mobil berhenti, seorang bapak dengan bersungut-sungut turun dari mobil menuju tempat sampah,

”Tukang gorengan sialan, minyak kaya gini bisa bikin batuk”, dengan penuh kebencian dicampakkannya satu plastik gorengan ke dalam tong sampah, dan beranjak kembali masuk ke mobil.

Umar dengan langkah cepat menghampiri laki-laki yang ada di mobil.

”Mohon maaf pak, bolehkah saya mengambil makanan yang baru saja bapak buang untuk saya makan”, pinta Umar dengan penuh harap.

Pria itu tertegun, luar biasa anak kecil didepannya. Harusnya dia bisa saja mengambilnya dari tong sampah tanpa harus meminta ijin. Muncul perasaan belas kasihan dari dalam hatinya.

“Nak, bapak bisa membelikan kamu makanan yang baru, kalau kamu mau”

”Terima kasih pak, satu kantong gorengan itu rasanya sudah cukup bagi saya, boleh khan pak?, tanya Umar sekali lagi.

”Bbbbbooolehh”, jawab pria tersebut dengan tertegun.

Umar berlari riang menuju tong sampah, dengan wajah sangat bahagia dia mulai makan gorengan, sesekali dia tersenyum melihat laki-laki yang dari tadi masih memandanginya.

Dari dalam mobil sang bapak memandangi terus Umar yang sedang makan. Dengan perasaan berkecamuk didekatinya Umar.

”Nak, bolehkah bapak bertanya, kenapa kamu harus meminta ijinku untuk mengambil makanan yang sudah aku buang?, dengan lembut pria itu bertanya dan menatap wajah anak kecil didepannya dengan penuh perasaan kasihan.

”Karena saya melihat bapak yang membuangnya, saya akan merasakan enaknya makanan halal ini kalau saya bisa meminta ijin kepada pemiliknya, meskipun buat bapak mungkin sudah tidak berharga, tapi bagi saya makanan ini sangat berharga, dan saya pantas untuk meminta ijin memakannya ”, jawab si anak sambil membersihkan bibirnya dari sisa minyak goreng.

Pria itu sejenak terdiam, dalam batinnya berkata, anak ini sangat luar biasa.
”Satu lagi nak, aku kasihan melihatmu, aku lihat kamu basah dan kedinginan, aku ingin membelikanmu makanan lain yang lebih layak, tetapi mengapa kamu menolaknya”.

Si anak kecil tersenyum dengan manis,
Maaf pak, bukan maksud saya menolak rejeki dari Bapak. Buat saya makan sekantong gorengan hari ini sudah lebih dari cukup. Kalau saya mencampakkan gorengan ini dan menerima tawaran makanan yang lain yang menurut Bapak lebih layak, maka sekantong gorengan itu menjadi mubazir, basah oleh air hujan dan hanya akan jadi makanan tikus.”

”Tapi bukankah kamu mensia-siakan peluang untuk mendapatkan yang lebih baik dan lebih nikmat dengan makan di restoran dimana aku yang akan mentraktirnya”, ujar sang laki-laki dengan nada agak tinggi karena merasa anak didepannya berfikir keliru.
Umar menatap wajah laki-laki didepannya dengan tatapan yang sangat teduh,

”Bapak !, saya sudah sangat bersyukur atas berkah sekantong gorengan hari ini. Saya lapar dan bapak mengijinkan saya memakannya”, Umar memperbaiki posisi duduknya dan berkata kembali,

” Dan saya merasa berbahagia, bukankah bahagia adalah bersyukur dan merasa cukup atas anugerah hari ini, bukan menikmati sesuatu yang nikmat dan hebat hari ini tetapi menimbulkan keinginan dan kedahagaan untuk mendapatkannya kembali dikemudian hari.”
Umar berhenti berbicara sebentar, lalu diciumnya tangan laki-laki didepannya untuk berpamitan. Dengan suara lirih dan tulus Umar melanjutkan kembali,

”Kalau hari ini saya makan di restoran dan menikmati kelezatannya dan keesokan harinya saya menginginkannya kembali sementara bapak tidak lagi mentraktir saya, maka saya sangat khawatir apakah saya masih bisa merasakan kebahagiaannya”.

Pria tersebut masih saja terpana, dia mengamati anak kecil didepannya yang sedang sibuk merapikan koran dan kemudian berpamitan pergi.

”Ternyata bukan dia yang harus dikasihani, Harusnya aku yang layak dikasihani, karena aku jarang bisa berdamai dengan hari ini”

Selamat Menjalani Hari Dengan Penuh Rahmat


Cahyana Puthut Wijanarka

(People Developer)

Diam Bersama Tuhan

DIAM BERSAMA TUHAN

 

Di salah satu gereja di Eropa Utara, ada sebuah patung Yesus Kristus yang disalib, ukurannya tidak jauh berbeda dengan manusia pada umumnya. Karena segala permohonan pasti bisa dikabulkan-Nya, maka orang berbondong-bondong datang secara khusus kesana untuk berdoa, berlutut dan menyembah, hampir dapat dikatakan halaman gereja penuh sesak seperti pasar. Di dalam gereja itu ada seorang penjaga pintu, melihat Yesus yang setiap hari berada di atas kayu salib, harus menghadapi begitu banyak permintaan orang, ia pun merasa iba dan di dalam hati ia berharap bisa ikut memikul beban penderitaan Yesus Kristus. Pada suatu hari, sang penjaga pintu pun berdoa menyatakan harapannya itu kepada Yesus.

Di luar dugaan, ia mendengar sebuah suara yang mengatakan, “Baiklah! Aku akan turun menggantikan kamu sebagai penjaga pintu, dan kamu yang naik di atas salib itu, namun apapun yang kau dengar, janganlah mengucapkan sepatah kata pun.” Si penjaga pintu merasa permintaan itu sangat mudah.

Lalu, Yesus turun, dan penjaga itu naik ke atas, menjulurkan sepasang lengannya seperti Yesus yang dipaku diatas kayu salib. Karena itu orang-orang yang datang bersujud, tidak menaruh curiga sedikit pun. Si penjaga pintu itu berperan sesuai perjanjian sebelumnya, yaitu diam saja tidak boleh berbicara sambil mendengarkan isi hati orang-orang yang datang.

Orang yang datang tiada habisnya, permintaan mereka pun ada yang rasional dan ada juga yang tidak rasional, banyak sekali permintaan yang  aneh-aneh. Namun, demikian, si penjaga pintu itu tetap bertahan untuk tidak bicara, karena harus menepati janji sebelumnya.

Pada suatu hari datanglah seorang saudagar kaya, setelah saudagar itu selesai berdoa, ternyata kantung uangnya tertinggal. Ia melihatnya dan ingin sekali memanggil saudagar itu kembali, namun terpaksa menahan diri untuk tidak ber bicara. Selanjutnya datanglah seorang miskin yang sudah 3 hari tidak makan, ia berdoa kepada Yesus agar dapat menolongnya melewati kesulitan hidup ini. Ketika hendak pulang ia menemukan kantung uang yang ditinggalkan oleh saudagar tadi, dan begitu dibuka, ternyata isinya uang dalam jumlah besar. Orang miskin itu pun kegirangan bukan main, “Yesus benar-benar baik, semua permintaanku dikabulkan!” dengan amat bersyukur ia lalu pergi.

Diatas kayu salib, “Yesus” ingin sekali memberitahunya, bahwa itu bukan miliknya. Namun karena sudah ada perjanjian, maka ia tetap menahan diri untuk tidak berbicara. Berikutnya, datanglah seorang pemuda yang akan berlayar ke tempat yang jauh. Ia datang memohon agar Yesus memberkati keselamatannya. Saat hendak meninggalkan gereja, saudagar kaya itu menerjang masuk dan langsung mencengkram kerah baju si pemuda, dan memaksa si pemuda itu mengembalikan uangnya. Si pemuda itu tidak mengerti keadaan yang sebenarnya, lalu keduanya saling bertengkar.

Di saat demikian, tiba-tiba dari atas kayu salib “Yesus” akhirnya angkat bicara.

Setelah semua masalahnya jelas, saudagar kaya itu pun kemudian pergi mencari orang miskin itu, dan si pemuda yang akan berlayar pun bergegas pergi, karena khawatir akan ketinggalan kapal.

Yesus yang asli kemudian muncul, menunjuk ke arah kayu salib itu sambil berkata, “TURUNLAH KAMU! Kamu tidak layak berada disana.” Penjaga itu berkata, “Aku telah mengatakan yang sebenarnya, dan menjernihkan persoalan serta memberikan keadilan, apakah salahku?”

“Kamu itu tahu apa?”, kata Yesus. “Saudagar kaya itu sama sekali tidak kekurangan uang, uang di dalam kantung bermaksud untuk dihambur-hamburkannya. Namun bagi orang miskin, uang itu dapat memecahkan masalah dalam kehidupannya sekeluarga.  Yang paling kasihan adalah pemuda itu.  Jika saudagar itu terus bertengkar dengan si pemuda sampai ia ketinggalan kapal, maka si pemuda itu mungkin tidak akan kehilangan nyawanya. Tapi sekarang kapal yang ditumpanginya sedang tenggelam di tengah laut.”

Ini kedengarannya seperti sebuah anekdot yang menggelikan, namun dibalik itu terkandung sebuah rahasia kehidupan…

Kita seringkali menganggap apa yang kita lakukan adalah yang paling baik, namun kenyataannya kadang justru bertentangan. Itu terjadi karena kita tidak mengetahui hubungan sebab-akibat dalam kehidupan ini.

Kita harus percaya bahwa semua yang kita alami saat ini, baik itu keberuntungan maupun kemalangan, semuanya merupakan hasil pengaturan yang terbaik dari Tuhan buat kita, dengan begitu kita baru bisa bersyukur dalam keberuntungan dan kemalangan dan tetap bersuka cita. 

Amen.

Wajah Yesus

Wajah Yesus

August 31st, 2008 by chiemay

Suatu malam aku terjaga, dan kulihat Dia di sisi pembaringanku.
Ia sedang mengamatiku dengan penuh perhatian.

Perhatianku langsung terarah pada kening Nya yang berkerut.
Tanyaku, “kenapa Dahi Mu berkerut Tuhan?”
JawabNya, “karena Aku tidak pernah berhenti memikirkan cara untuk membuatmu lebih sempurna dan bahagia”.

Lalu Ia pun mulai memejamkan Mata Nya.
Akupun bertanya lagi, “kenapa Mata Mu Kau pejamkan Tuhan?”
JawabNya, “karena Aku tidak sanggup melihat kesakitan dan tetes air mata yang kau curahkan dalam tiap perkara yang kau rasa menyusahkan hatimu”.

Tak berapa lama kemudian, bulir-bulir air mata mulai mengalir dari Mata Yesus.
Maka aku bertanya pula pada Nya, “kenapa Kau menangis Tuhan?”
Ia memandangku dari balik Mata yang berkaca, dan menjawabku lembut,
“Karena Aku sungguh sangat merasakan tiap kepedihanmu, dan bagaimana luka itu menyakiti HatiKu, sebagaimana itu menyakitkan hatimu”.

Sesudah berucap demikian, Ia pun melipat kedua Tangan Nya dan berlutut berdoa.
Aku terkesima pada pemandangan ini, dan segera bertanya pula pada Nya setelah Ia selesai berdoa,
“Apa yang Kau doakan Tuhan dan mengapa?”
Ia menatapku dengan penuh kasih dan menjawabku dengan lembut,
“Aku berdoa kepada Bapa di Surga, agar Ia mengaruniakan kekuatan dan kebijaksanaan yang kau perlukan dalam menjalani setiap peristiwa dalam hidupmu. Terlebih, Aku juga memohonkan karunia akan penyertaan Roh Kudus senantiasa untuk mendampingimu dalam tiap detik kehidupanmu.
Karena Aku sangat mengasihimu, dan sungguh, kau sangatlah berharga di Mata Ku”.

Chie/
August 30th, 2008
pass by midnight
~ in d middle of pain & awesome wonder ~

Emas & Kekasih

 

Bacaan bagi yang, SEDANG MENCARI PASANGAN, TELAH MEMPEROLEH PASANGAN
dan TELAH MENIKAH.

Alkisah seorang raja yg kaya raya & sangat baik. Ia mempunyai banyak
sekali emas & kuningan. Karena terlalu banyak sehingga antara emas &
kuningan tercampur menjadi satu.

Suatu hari raja yg baik hati ini memberikan hadiah emas kepada seluruh
rakyatnya. Dia membuka gudangnya lalu mempersilahkan rakyatnya
mengambil
kepingan emas terserah mereka. Karena antara emas & kuningan tercampur
menjadi satu sehingga sulit sekali dibedakan mana yg emas & mana yg
kuningan, lalu mana yg emasnya 24 karat & mana yg emasnya hanya 1 karat.

Namun karena ada peraturan dari Sang Raja, yaitu bila mereka sudah
MEMILIH & MENGAMBIL SATU dari emas itu, mereka tidak boleh
mengembalikannya lagi.

Tetapi raja menjanjikan bagi mereka yg mendapat emas hanya 1 karat
atau mereka yg mendapatkan kuningan, mereka dapat bekerja di kebun
raja &
merawat pemberian raja itu dengan baik, maka raja AKAN MENAMBAH &
MEMBERIKAN KADAR KARAT
itu sedikit demi sedikit.

Mendengar itu bersukacitalah rakyatnya, sambil mengelu-elukan rajanya.
Mereka datang dari penjuru tempat dan satu persatu dari mereka dengan
berhati-hati mengamat-amati benda-benda itu. Waktu yg diberikan kepada
mereka semua ialah SATU SETENGAH HARI, dengan perhitungan SETENGAH
HARI UTK MEMILIH, SETENGAH HARI UTK MERENUNGKAN & SETENGAH HARI LAGI
UTK MEMUTUSKAN.

Para prajurit selalu siaga menjaga keamanan pemilihan emas tsb. Karena
tidak jarang terjadi perebutan emas yg sama diantara mereka. Selama
proses
pemilihan berlangsung, seorang prajurit mencoba bertanya kpd salah
seorang rakyatnya, “Apa yg kau amat-amati, sehingga satu setengah hari
kau habiskan waktumu di sini?”

Jawab orang itu: “Tentu saja aku harus berhati-hati, aku harus
mendapatkan emas 24 karat itu.”

Lalu tanya prajurit itu lagi: “Seandainya emas 24 karat itu tidak
pernah ada, atau hanya ada satu diantara setumpuk emas ini, apakah
engkau masih saja mencarinya? Sedangkan waktumu sangat terbatas?”

Jawab orang itu lagi: Tentu saja tidak, aku akan mengambil emas
terakhir yg ada ditanganku begitu waktuku habis.”

Lalu prajurit itu berkeliling & ia menjumpai seorang yg tampan,
melihat perangainya ia adalah seorang kaya. Bertanyalah prajurit itu
kepadanya,

“Hai orang kaya apa yg kau cari di sini.Bukankah engkau sudah lebih
dari cukup?”

Jawab orang kaya itu, “Bagiku hidup adalah uang, kalau aku bisa
mengambil emas ini tentu saja itu berarti menambah keuntunganku. ”

Kemudian prajurit itu kembali mengawasi satu persatu dari mereka, maka
tampak olehnya seseorang yg sejak satu hari ia selalu menggenggam
kepingan
emasnya. Lalu dihampirinya orang itu, “Mengapa engkau diam di sini?
Tidakkah engkau memilih emas-emas itu? Atau tekadmu sudah bulat untuk
mengambil emas itu?’

Mendengar perkataan prajurit itu,orang ini hanya diam saja. Maka
prajurit bertanya lagi,”Atau engkau yakin bahwa itulah emas 24 karat,
sehingga engkau tidak lagi berusaha mencari yg lain?”

Orang itu masih terdiam, prajurit itu semakin penasaran. Lalu ia lebih
mendekat lagi, “Tidakkah engkau mendengar pertanyaanku? ”

Sambil menatap prajurit, orang itu menjawab: “Tuan,saya ini orang
miskin. Saya tidak pernah tahu mana yg emas & mana yg kuningan. Tetapi

HATI SAYA MEMILIH EMAS INI, saya pun tidak tahu berapa kadar emas ini.
Atau jika ternyata emas ini hanya kuningan pun saya juga tidak tahu.”

“Lalu mengapa engkau tidak mencoba bertanya kepada mereka atau
kepadaku kalau engkau tidak tahu.” Tanya prajurit itu lagi.

“Tuan, emas & kuningan ini milik raja. Jadi menurut saya hanya raja yg
tahu mana yg emas & mana yg kuningan, mana yg 1 karat & mana yg 24
karat. Tetapi satu hal yg saya percaya, janji raja untuk mengubah
kuningan menjadi emas, itu yg lebih penting.” Jawabnya lugu.

Prajurit ini semakin penasaran, “Mengapa bisa begitu?”

“Bagi saya berapa pun kadar emas ini cukup buat saya. Karena kalau
saya bekerja, saya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk
membeli emas Tuan.”

Prajurit tampak tercengang mendengar jawaban dari orang ini, lalu ia
melanjutkan perkataannya, “Lagipula Tuan, peraturannya saya tidak
boleh menukar emas yg sudah saya ambil.”

“Tidakkah engkau mengambil emas-emas yg lain & menukarnya sekarang
selagi masih ada waktu?” Tanya prajurit lagi.

“Saya SUDAH MENGGUNAKAN WAKTU ITU, kini waktu setengah hari terakhir
saya, inilah saatnya saya mengambil keputusan. Jika saya GANTIKAN EMAS
INI DENGAN YANG LAIN, BELUM TENTU SAYA MENDAPAT YG LEBIH BAIK DARI
PUNYA SAYA INI.

Saya memutuskan untuk mengabdi pada raja & merawat milik saya ini,
untuk menjadikannya emas yg murni.”

Tak lama lagi lonceng istana berbunyi, tanda berakhir sudah kegiatan
mereka. Lalu raja keluar & berdiri ditempat yg tinggi sambil
berkata,”Wahai rakyatku yg kukasihi. Semua emas yg kau genggam itu
adalah hadiah yg telah kuberikan. Sesuai dengan perjanjian, tidak
seorang pun diperbolehkan menukar atau pun menyia-nyiakan hadiah itu.
Jika didapati hal di atas maka orang itu akan MENDAPAT HUKUMAN karena
ia tidak menghargai raja.”

Kata-kata raja itu disambut hangat oleh rakyatnya. Lalu sekali lagi di
hadapan rakyatnya raja ingin memberitahu tentang satu hal, “Dan
ketahuilah,
bahwa sebenarnya tidak ada emas 24 karat itu. Hal ini dimaksudkan
bahwa kalian semua harus mengabdi kepada kerajaan. Dan hanya akulah yg
dapat
menambah jumlah karat itu, karena akulah yg memilikinya. Selama satu
setengah hari, setengah hari yg kedua yaitu saat kuberikan waktu
kepada kalian semua untuk merenungkan pilihan, kalian kutunggu untuk
datang kepadaku menanyakan perihal emas itu. Tetapi sayang sekali,
hanya 1 orang yg datang kepadaku untuk menanyakannya. ”

Demikianlah raja yg baik hati & bijaksana itu mengajar rakyatnya. Dan
selama bertahun-tahun ia dengan sabar menambah karat satu persatu dari
emas
rakyatnya.

(Dikutip dari: “When We Have to Choice” / Kumpulan Sharing & Cerpen)

Berharap melalui alkisah di atas kita dapat merefleksi diri dalam
mencari pasangan hidup:

BAGI YANG SEDANG MENCARI PASANGAN

(setengah hari untuk memilih)

MEMILIH memang boleh, tapi MANUSIA TIDAK ADA YG SEMPURNA, jangan lupa
emas-emas itu milik sang raja jadi hanya dia yang
tahu menahu masalah itu.
Artinya setiap manusia milik Tuhan, jadi berdoalah untuk berkomunikasi
denganNYA tentang pasangan anda.

BAGI YANG TELAH MEMPEROLEH PASANGAN

(setengah hari untuk merenungkan)

Mungkin pertama kali Anda mengenal, si dia nampak emas 24 karat.
Ternyata setelah bertahun-tahun kenal, si dia hanya berkadar 10 karat.
Diluar,
memang KITA DIHADAPKAN DENGAN BANYAK PILIHAN, sama dengan rakyat yang
memilih emas tadi. Akan tetapi pada saat KITA SUDAH
MENDAPATKANNYA BELUM TENTU WAKTU KITA MELEPASKANNYA KITA MENDAPAT YG
LEBIH BAIK
. Jadi jika dalam tahap ini Anda merasa telah mendapatkan
dia, hal yang terbaik dilakukan ialah menilai secara objective siapa
dia (karena itu KETERBUKAAN & KOMUNIKASI sangat penting dalam menjalin
hubungan) dan MENYELARASKAN HATI.

Anda bersamanya.. Begitu Anda tahu tentang HAL TERJELEK dalam dirinya
sebelum Anda menikah itu lebih baik. Dengan demikian Anda tidak merasa
shock setelah menikah. Tinggal BAGAIMANA ANDA MENERIMANYA. Anda mampu
menerimanya atau tidak, Anda mengusahakan perubahannya atau tidak.

“CINTA SELALU BERJUANG” Jangan anggap tidak pernah ada masalah dalam
jalan cinta Anda. Justru jika dalam tahap ini Anda tidak pernah
mengalami masalah dengan pasangan Anda (TIDAK PERNAH BERTENGKAR
MUNGKIN)
Anda malah harus berhati-hati, karena ini adalah hubungan yg
tidak sehat, berarti banyak kepura-puraan yang ditampilkan dalam
hubungan Anda.

Yg terpenting adalah NIAT BAIK DIANTARA PASANGAN, sehingga dengan
KOMITMEN & CINTA, SEGALA SESUATU SELALU ADA JALAN KELUARNYA. Meskipun
dalam tahap ini Anda masih punya waktu setengah hari lagi untuk
memutuskan, artinya Anda masih dapat berganti pilihan, akan tetapi

PERTIMBANGKAN DENGAN BAIK hal ini.

BAGI YANG TELAH MENIKAH

(setengah hari untuk memutuskan)

Dalam tahap ini, siapa pun dia berarti Anda telah mengambil keputusan
untuk memilihnya. Jangan berpikir untuk mengambil keuntungan dari
pasangan Anda. Jika ini terjadi berarti Anda EGOIS, sama halnya dengan
orang kaya di atas.

Dan dengan demikian Anda TIDAK PERNAH PUAS DENGAN DIRI PASANGAN ANDA,
maka tidak heran banyak terjadi perselingkuhan. Anda
tidak boleh merasa menyesal dengan pilihan Anda sendiri. Jangan kuatir
raja selalu memperhatikan rakyatnya dan menambah kadar karat pada
emasnya.
Jadi percayalah kalau Tuhan pasti akan memperhatikan Anda dan DIA YANG
PALING BERKUASA MENGUBAH SETIAP ORANG
. Perceraian bukanlah solusi,
sampai kapan kita harus menikah lalu bercerai, menikah lagi & bercerai
lagi??
Ingatlah si dia adalah HADIAH, siapa pun dia terimalah dia karena
sekali lagi itulah pilihan Anda.

Ingat ini adalah setengah hari terakhir yaitu waktu untuk memutuskan,
setelah itu Anda tidak boleh menukar atau menyia-nyiakan emas Anda.
Jadi
peliharalah pasangan Anda sebagaimana HADIAH TERINDAH YANG TELAH TUHAN
BERIKAN. Dan apa pun yang terjadi dengan pasangan
Anda komunikasikanlah dengan Tuhan, KARENA DIA YANG MEMILIKI HATI SETIAP
MANUSIA…


Good day & wonderful week ahead

 

 

Anne Hathaway’s Ex Pleads Guilty

A smooth-talking Italian businessman who once dated actress Anne Hathaway and claimed to have friends in high places at the Vatican is headed to prison after pleading guilty Wednesday in a Manhattan real estate fraud case

The Blind Boy

A blind boy sat on the steps of a building with a hat by his feet. He held
up a sign which said: ‘I am blind, please help.’ There were only a few coins
in the hat.

A man was walking by. He took a few coins from his pocket and dropped them
into
the hat. He then took the sign, turned it around, and wrote some words. He
put
the sign back so that everyone who walked by would see the new words.

Soon the hat began to fill up. A lot more people were giving money to the
blind
boy. That afternoon the man who had changed the sign came to see how things
were. The boy recognized his footsteps and asked, ‘Were you the one who
changed my sign this morning? What did you write?’

The man said, ‘I only wrote the truth. I said what you said but in a
different way.’
What he had written was: ‘Today is a beautiful day and I cannot see
it.’

Do you think the first sign and the second sign were saying the same thing?

Of course both signs told people the boy was blind. But the first sign simply
said the boy was blind. The second sign told people they were so lucky
that they
were not blind. Should we be surprised that the second sign was more
effective?

Moral of the Story: Be thankful for what you have. Be creative. Be
innovative.
Think differently and positively.

Invite others towards good with wisdom. Live life with no excuse and love
with
no regrets. When life gives you a 100 reasons to cry, show life that you have
1000 reasons to smile. Face your past without regret. Handle your present
with
confidence. Prepare for the future without fear. Keep the faith and drop the
fear.

Great men say, ‘Life has to be an incessant process of repair and
reconstruction, of discarding evil and developing goodness…. In the
journey of life, if you want to travel without fear, you must have the ticket of a good
conscience.’

The most beautiful thing is to see a person smiling…
And even more beautiful is, knowing that you are the reason behind it!!!

(¨`•.•´¨)
`•.¸(¨`•.•´¨) Keep
(¨`•.•´¨)¸.•´ Smiling!!!!!
`•.¸.•´

Pages: 1 2 Next