Litani St. Rafael

Tuhan, kasihanilah kami

Kristus, kasihanilah kami

Tuhan, kasihanilah kami

Kristus, dengarkanlah kami

Kristus, kabulkanlah doa kami

Allah Bapa di Surga, kasihanilah kami

Allah Putera, Penebus dunia, kasihanilah kami

Allah Roh Kudus, kasihanilah kami

Tritunggal Mahakudus, Tuhan yang Mahaesa, kasihanilah kami

Yesus, Raja Para Malaikat, kasihanilah kami

Santa Maria, Ratu Para Malaikat, doakanlah kami

St. Rafael, Malaikat Agung, doakanlah kami *

St. Rafael, yang namanya berarti: Penyembuhan Allah *

St. Rafael, yang tinggal bersama para malaikat yang baik dalam kerajaan Allah *

St. Rafael, satu dari ketujuh malaikat yang berada diHadirat yang Mahatinggi *

St. Rafael, yang melayani Allah di Surga *

St. Rafael, utusan mulia dan perkasa Allah *

St. Rafael, yang setia pada kehendak Allah *

St. Rafael, yang mengunjukkan doa-doa Tobit kepada Allah *

St. Rafael, teman seperjalanan Tobia *

St. Rafael, yang menjaga para sahabat dari bahaya *

St. Rafael, yang menemukan istri yang pantas bagi Tobia, *

St. Rafael, yang membebaskan Sara dari roh-roh jahat *

St. Rafael, yang menyembuhkan Tobit dari kebutaan *

St. Rafael, penuntun dan pelindung perjalanan kami dalam kehidupan *

St. Rafael, penolong yang kuat dalam kesusahan *

St. Rafael, penakluk iblis *

St. Rafael, penuntun dan penasehat orang muda *

St. Rafael, pelindung jiwa-jiwa yang murni *

St. Rafael, malaikat pelindung kaum muda *

St. Rafael, malaikat kegembiraan *

St. Rafael, malaikat perjumpaan-perjumpaan yang bahagia *

St. Rafael, malaikat percintaan suci *

St. Rafael, malaikat para pencari pasangan hidup *

St. Rafael, malaikat kehidupan keluarga *

St. Rafael, pelindung keluarga Kristen *

St. Rafael, pelindung orang-orang yang bepergian *

St. Rafael, malaikat kesehatan *

St. Rafael, dokter Surgawi *

St. Rafael, penolong orang buta *

St. Rafael, penolong orang sakit *

St. Rafael, pelindung para dokter *

St. Rafael, penghibur orang yang berduka *

St. Rafael, pertolongan di saat ajal *

St. Rafael, bentara Rahmat *

St. Rafael, pembela Gereja *

Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.

Selamatkanlah kami ya Tuhan

Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.

Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.

Kasihanilah kami

Kristus, dengarkanlah kami

Kristus, kabulkanlah doa kami

P: Doakanlah kami St.Rafael, Malaikat Agung yang mulia

U: Supaya kami layak menikmati janji-janji Kristus

Doa penutup:

Ya Allah, Engkau yang dengan murah hati mengutus Malaikat Agung St. Rafael sebagai teman seperjalanan Tobia, anugerahilah kami hamba-hambaMu, agar kami selalu menikmati perlindungannya dan dikuatkan oleh pertolongannya, dengan perantaraan Kristus Tuhan kami.

Amin

Free Gifts Vs Free Will

I remember when I was a child of 6 or 7 years old. My mother used to give both my brother and I some amount of money to be put into the church collection bags.

One day, both my brother and I, thought that the amount was too much, and we had other interest to spend the money for our own interests. So instead of putting them into the bags, we put the money into our own pockets.

Later, when my mother found out about this, she was angry. And in her disappointment, she uttered these words “Such a disgrace what you both just did. Didn’t I give you money for your own? Why still taking something that’s not belong to you? Why not giving it away as I’ve told you to?”

The money however, pictures the gifts God has equipped us with. They are freely came from God. We are not picking them from elsewhere, nor buy them on our own efforts. So not to take any pride of having them either. Nevertheless, we are obliged to use them to serve Him in appropriate time, place and situation. To glorify His name. However, the choice lays in our hands. Whether we’re going to use them for God’s glory, or to use them for our own goods, or to neglect them and bury them instead.

~ All came freely from God, All goes rightly to God~

Our Limited Sight

When I was in the elementary, my mom would picked me up from school using her motorcycle. Often, I got so sleepy and started to slumber. It happened several times.

One day, a passing rider made a sign and told my mom, that her child was sleeping. My mom was pretty shocked and gave me a long lecture about the danger of bla bla bla.

I felt discontented that day. Feeling that both my mom and the rider had distracted me from having a ‘pleasure of good time sleeping”. Not knowing the danger of my action yet.

Same things go with our Father in Heaven. Sometimes we feel, why our wishes not being granted, or why we can’t do this. We thought these are good. Thinking we know best. But of course. ‘Content’ is not the same as ‘Correct’.

Our Father can see far more beyond our limited sight. He knows the dangers or the final results of each situation or action. Therefore, we should be taking interests to listen to our surroundings when they started warning us.

We need to trust God’s wisdom and the He’ll provide what’s best for us, even more than what we can imagine.

Matthew 7:11
If you, then, though you are evil, know how to give good gifts to your children, how much more will your Father in heaven give good gifts to those who ask him!

~ Think we know best, but Father knows better ~

Buka Pikiranmu, Bukan Logikamu

Dahulu kala di suatu desa kecil di Indian, seorang petani
yang sangat miskin mempunyai hutang yang sangat besar kepada rentenir
di desa tersebut. Rentenir itu, udah tua, bangkotan, eee…. malah
tertarik pada putrinya pak tani yang cakep itu.

Kemudian si rentenir tersebut mengajukan penawaran, dia akan melupakan
hutang2 petani tersebut jika dia dapat menikahi putrinya.
Sang petani dan putrinya pun bingung dengan tawaran tersebut, kayaknya
mereka nggak setuju.

Melihat gelagat seperti itu Si rentenir mengajukan tawaran lagi untuk
membuat keputusan. Dia mengatakan, bahwa dia akan meletakkan keping
hitam dan keping putih di dalam kantong kosong, kemudian sang putri
petani diharuskan untuk mengambil satu keping dari kantong tersebut.

1. Jika sang putri mendapatkan keping hitam, maka dia akan
menjadiistri rentenir tersebut dan hutang2 petani tersebut lunas.
2. Jika sang putri mendapatkan keping putih, maka rentenir tersebut
tidak akan menikahi sang putri dan hutang2 petani tersebut lunas.
3. Jika sang putri menolak mengambil keping, sang petani akan dipenjara.
Berada di halaman petani yang banyak terdapat kepingan2,
si rentenir mengambil 2 keping. Ketika mengambil, mata sang putri yang tajam
melihat, bahwa keping yang dimasukkan ke dalam kantong keduanya
berwarna hitam. Kemudian rentenir itu menyuruh sang putri
mengambil keping tersebut di dalam kantong.

Sekarang bayangkan anda ada di sana , apa yang kamu lakukan
jika anda sebagai putri tersebut?
Jika anda harus menolong sang putri, apa yang harus kau
lakukan kepada sang putri?

Melihat hal seperti itu, ada 3 kemungkinan. ..
1. sang putri menolak untuk mengambil kepingan.
2. sang putri menunjukkan, bahwa yang di dalam kantong
tersebut keduanya adalah berwarna hitam serta mengungkap, bahwa
rentenir tersebut curang.
3. sang putri mengambil keping hitam dan mengorbankan
dirinya untuk menyelamatkan ayahnya dari hutang2 dan penjara.
Sekarang pertimbangkan cerita di atas. Pengalaman ini
digunakan untuk membedakan pemikiran logika dan lateral thinking. Dilema
sang putri tidak dapat diselesaikan dengan logika awam. Pikirkan cara
lain, jika sang putri tidak memilih pilihan yang diberikan kepadanya.
Apa yang akan anda tawarkan kepadanya ?

Jangan melihat jawaban di bawah ini, sebelum anda memikirkan cara lain
sebagai saran kepada sang putri, pikirkan 5 menit saja….

Baik, begini caranya.

Sang putri memasukkan tangannya ke dalam kantong
dan mengambil satu keping tersebut. Tanpa melihat keping
tersebut, secara sengaja menjatuhkan (setengah melempar) keping
tersebut ke halaman dan bercampur dengan keping2 yang lain di halaman.
‘Oh, betapa bodohnya aku’ kata sang putri, ‘tapi, anda nggak
usah khawatir, jika tuan melihat sisa kepingan di dalam kantong, maka tuan akan
mengetahui keping mana yang saya ambil’.
Dengan begitu, sisa yang ada di dalam kantong adalah keping berwarna hitam, sehingga diasumsikan bahwa sang putri telah mengambil keping yang berwarna putih.
Sejak rentenir berani menyatakan untuk tidak jujur, sang
putri mengubah dari keadaan yang kelihatannya mustahil menjadi
keadaan yang sangat menguntungkan.

Moral of the story : Semua permasalahan yang kompleks
mempunyai jalan keluar. Yang anda butuhkan hanya melebarkan pemikiran anda.
Jika logika anda tidak bisa bekerja, berusahalah dengan lateral thinking.
Lateral thinking sangat kreatif, mudah dikerjakan tiap hari.

‘Rahasia untuk sukses, adalah mengetahui sesuatu yang
tidak diketahui orang lain’…… .
Lebih Baik Mulai Menyalakan Lilin daripada terus menerus
mengutuki kegelapan yang menyelubungi Kita…

Tuhan pun turut menangis dengan bangga

pengarang : unknown

Saat itu adalah musim panas dimana hujan belum turun hampir satu bulan lamanya.
Tanaman jagung hampir mati. Sapi-sapi tidak menghasilkan susu.

Sungai-sungai mengering seperti menyusut ke dasar bumi. Itu adalah musim kering
yang cukup parah bahkan ada kemungkinan sebelum musim panas berakhir banyak dari
para petani sudah harus mengalami kebangkrutan.

Setiap hari suamiku dan adik laki-lakinya berusaha semaksimal mungkin mengairi
ladang kami walau dengan proses yang amat sukar. Dan akhirnya proses ini
melibatkan sebuah truk yang harus di bawa ke pabrik penyimpan air setempat dan
mengisinya dengan air.

Namun tindakan penjatahan yang ketat ini telah membuat banyak orang kesusahan.

Seandainya hujan tidak turun juga dengan segera … kami akan kehilangan segalanya.

Hari itu adalah hari dimana aku boleh mendapatkan satu pelajaran yang sangat
berharga tentang memberi dan aku menyaksikan sendiri mujizat yang terjadi.

Saat itu aku sedang di dapur menyiapkan makan siang ketika aku melihat anak laki-lakiku,
Billy, yang berumur enam tahun sedang berjalan ke hutan. Langkahnya tidak
seperti anak kecil pada umumnya tapi seperti sedang berjalan dengan satu tujuan
yang sangat penting sekali.

Aku hanya bisa melihat punggungnya saja.

Jelas sekali dia berjalan dengan upaya yang cukup besar … mencoba untuk
semaksimal mungkin berjalan dengan tenang. Baru sebentar dia menghilang di dalam
hutan, dengan segera dia sudah terlihat kembali sambil berlari dengan kencang
menuju rumah. Saat itu aku tidak terlalu perduli, aku pikir urusannya sudah
selesai dan kembali meneruskan kegiatanku. Tetapi, sesaat kemudian, kembali aku
melihat Billy, sekali lagi dengan langkah-langkahnya yang diupayakan tetap
tenang sedang berjalan menuju hutan.

Hampir satu jam dia melakukan hal itu: berjalan dengan sangat hati-hati ke hutan,
lalu kembali ke rumah dengan berlari. Akhirnya setelah mengamati sekian lama aku
tidak tahan lagi, aku langsung keluar mencoba untuk mengikutinya (namun berusaha
untuk tidak diketahui… sepertinya dia tidak ingin ibunya tahu pekerjaan
penting yang sedang dikerjakannya).

Dia berjalan dengan tangan yang sedang menangkup air, dan terus mencoba untuk
tidak menumpahkan satu tetespun … kemungkinan air ditangannya yang kecil itu
paling-paling hanya sebanyak dua atau tiga sendok makan. Aku berusaha untuk
mencoba lebih mendekat saat dia sedang berjalan menuju hutan. Ranting-ranting
pohon dan duri mengenai wajah kecilnya, tapi dia sama sekali tidak mencoba untuk
menghindar. Dia lebih memusatkan perhatiannya kepada tugas yang sedang dia
kerjakan.

Ketika aku sedang mengawasinya, disaat itulah aku melihat pemandangan yang
sangat luar biasa. Beberapa rusa besar bermunculan dihadapannya. Billy berjalan
tepat ke arah mereka. Hampir aku berteriak untuk menyuruhnya menjauh. Seekor
rusa jantan besar dengan tanduknya yang indah datang mendekat. Tapi rusa itu
tidak melakukan apa-apa…bahkan ketika Billy duduk berlutut.

Dan aku melihat seekor anak rusa kecil tergelak di tanah dan jelas sekali sedang
menderita dehidrasi dan keletihan yang amat sangat. Aku melihat anak rusa itu
dengan usaha yang keras mencoba mengangkat kepalanya untuk bisa menjilat air
dari tangan kecil anakku.

Ketika airnya habis, dengan segera Billy melompat berdiri untuk segera kembali
berlari ke rumah dan aku segera bersembunyi di balik pohon. Aku mengikutinya
kembali ke rumah dan dia berjalan menuju keran yang telah kami tutup. Billy
membukanya dan aliran air yang sangat kecil meluncur turun. Dia menadahkan
tangannya sambil berjongkok, menunggu air yang mengalir sangat lambat itu
memenuhi tangannya dan sinar matahari yang panas menyinari punggungnya.

Semua menjadi jelas sekarang: Minggu lalu dia telah bermain-main dengan selang
air dan telah membuang air dengan sia-sia. Dia harus menerima hukuman untuk hal
itu. Itulah sebabnya dia berusaha untuk tidak minta tolong kepadaku.

Membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit untuk air itu bisa memenuhi tangan
kecilnya. Setelah penuh dia berdiri dan mencoba untuk kembali ke hutan, disaat
itulah dia baru menyadari bahwa aku telah berada di hadapannya. Dengan air mata
yang hampir mengalir dia berkata, “aku nggak sedang buang-buang air,” katanya.

Ketika dia kembali memulai perjalanannya lagi, aku telah menemaninya…kali ini
dengan membawa mangkuk kecil yang sudah berisi air. Aku menunggunya dari jauh
dan membiarkannya memberi minum anak rusa itu. Itu adalah pekerjaannya. Aku
berdiri di pinggir hutan sambil memandangi sebuah hati yang luar biasa indah
yang dengan usaha yang besar sedang berusaha untuk menyelamatkan sebuah
kehidupan lain.

Ketika air mata membasahi wajahku, tiba-tiba aku merasakan ada tetesan air yang
lain menimpa wajahku, lagi, lagi dan lebih banyak lagi. Aku memandang ke langit
dan bisa merasakan bahwa Tuhan pun turut menangis dengan bangga.

Mungkin ada yang mengatakan bahwa itu hanyalah kebetulan.

Bahwa mujizat itu tidak ada. Bahwa kebetulan saja hujan memang harus turun.

Aku tidak dapat mendebatnya… dan tidak ingin melakukannya. Yang ingin aku
katakan hanyalah bahwa hujan hari itu sungguh-sungguh telah menyelamatkan
pertanian kami…seperti yang telah dilakukan seorang anak laki-laki kecil yang
telah menyelamatkan nyawa makhluk lain.

Take my life and let it be
consecrated, Lord, to Thee.
Take my moments and my days,
let them flow in ceaseless praise.
Take my hands and let them move
at the impulse of Thy love.
Take my feet and let them be
swift and beautiful for Thee.

Take my voice and let me sing
always, only for my King.
Take my lips and let them be
filled with messages from Thee.
Take my silver and my gold
not a mite would I withhold.
Take my intellect and use
every power as You choose.

::Chorus::
Here am I, all of me.
Take my life, it’s all for Thee.

Take my will and make it Thine
it shall be no longer mine.
Take my heart it is Thine own
it shall be Thy royal throne.
Take my love, my Lord I pour
at Your feet its treasure store
Take myself and I will be
ever, only, all for Thee.
Take myself and I will be
ever, only, all for Thee.

Here am I, all of me.
Take my life, it’s all for Thee.
x3

Bersyukur dalam keadaan

Dari tadi pagi hujan mengguyur kota tanpa henti, udara yang biasanya sangat panas, hari ini terasa sangat dingin. Di jalanan hanya sesekali mobil yang lewat, hari ini hari libur membuat orang kota malas untuk keluar rumah. Di perempatan jalan, Umar,seorang anak kecil berlari-lari menghampiri mobil yang berhenti di lampu merah, dia membiarkan tubuhnya terguyur air hujan, hanya saja dia begitu erat melindungi koran dagangannya dengan lembaran plastik.

“Korannya bu !”seru Umar berusaha mengalahkan suara air hujan.

Dari balik kaca mobil si ibu menatap dengan kasihan, dalam hatinya dia merenung anak sekecil ini harus berhujan-hujan untuk menjual koran. Dikeluarkannya satu lembar dua puluh ribuan dari lipatan dompet dan membuka sedikit kaca mobil untuk mengulurkan lembaran uang.

“Mau koran yang mana bu?, tanya Umar dengan riang.

”Nggak usah, ini buat kamu makan, kalau koran tadi pagi aku juga sudah baca”, jawab si ibu.

Si Umar kecil itu tampak terpaku, lalu diulurkan kembali uang dua puluh ribu yang dia terima, ”Terima kasih bu, saya menjual koran, kalau ibu mau beli koran silakan, tetapi kalau ibu memberikan secara cuma-cuma, mohon maaf saya tidak bisa menerimanya”, Umar berkata dengan muka penuh ketulusan.

Dengan geram si ibu menerima kembali pemberiannya, raut mukanya tampak kesal, dengan cepat dinaikkannya kaca mobil. Dari dalam mobil dia menggerutu ”Udah miskin sombong!”. Kakinya menginjak pedal gas karena lampu menunjukkan warna hijau. Meninggalkan Umar yang termenung penuh tanda tanya .

Umar berlari lagi kepinggir, dia mencoba merapatkan tubuhnya dengan dinding ruko tempatnya berteduh. Tangan kecilnya sesekali mengusap muka untuk menghilangkan butir-butir air yang masih menempel. Sambil termenung dia menatap nanar rintik-rintik hujan didepannya,

”Ya Tuhan, hari ini belum satupun koranku yang laku”, gumamnya lemah.

Hari beranjak sore namun hujan belum juga reda, Umar masih saja duduk berteduh di emperan ruko, sesekali tampak tangannya memegangi perut yang sudah mulai lapar. Tiba-tiba didepannya sebuah mobil berhenti, seorang bapak dengan bersungut-sungut turun dari mobil menuju tempat sampah,

”Tukang gorengan sialan, minyak kaya gini bisa bikin batuk”, dengan penuh kebencian dicampakkannya satu plastik gorengan ke dalam tong sampah, dan beranjak kembali masuk ke mobil.

Umar dengan langkah cepat menghampiri laki-laki yang ada di mobil.

”Mohon maaf pak, bolehkah saya mengambil makanan yang baru saja bapak buang untuk saya makan”, pinta Umar dengan penuh harap.

Pria itu tertegun, luar biasa anak kecil didepannya. Harusnya dia bisa saja mengambilnya dari tong sampah tanpa harus meminta ijin. Muncul perasaan belas kasihan dari dalam hatinya.

“Nak, bapak bisa membelikan kamu makanan yang baru, kalau kamu mau”

”Terima kasih pak, satu kantong gorengan itu rasanya sudah cukup bagi saya, boleh khan pak?, tanya Umar sekali lagi.

”Bbbbbooolehh”, jawab pria tersebut dengan tertegun.

Umar berlari riang menuju tong sampah, dengan wajah sangat bahagia dia mulai makan gorengan, sesekali dia tersenyum melihat laki-laki yang dari tadi masih memandanginya.

Dari dalam mobil sang bapak memandangi terus Umar yang sedang makan. Dengan perasaan berkecamuk didekatinya Umar.

”Nak, bolehkah bapak bertanya, kenapa kamu harus meminta ijinku untuk mengambil makanan yang sudah aku buang?, dengan lembut pria itu bertanya dan menatap wajah anak kecil didepannya dengan penuh perasaan kasihan.

”Karena saya melihat bapak yang membuangnya, saya akan merasakan enaknya makanan halal ini kalau saya bisa meminta ijin kepada pemiliknya, meskipun buat bapak mungkin sudah tidak berharga, tapi bagi saya makanan ini sangat berharga, dan saya pantas untuk meminta ijin memakannya ”, jawab si anak sambil membersihkan bibirnya dari sisa minyak goreng.

Pria itu sejenak terdiam, dalam batinnya berkata, anak ini sangat luar biasa.
”Satu lagi nak, aku kasihan melihatmu, aku lihat kamu basah dan kedinginan, aku ingin membelikanmu makanan lain yang lebih layak, tetapi mengapa kamu menolaknya”.

Si anak kecil tersenyum dengan manis,
Maaf pak, bukan maksud saya menolak rejeki dari Bapak. Buat saya makan sekantong gorengan hari ini sudah lebih dari cukup. Kalau saya mencampakkan gorengan ini dan menerima tawaran makanan yang lain yang menurut Bapak lebih layak, maka sekantong gorengan itu menjadi mubazir, basah oleh air hujan dan hanya akan jadi makanan tikus.”

”Tapi bukankah kamu mensia-siakan peluang untuk mendapatkan yang lebih baik dan lebih nikmat dengan makan di restoran dimana aku yang akan mentraktirnya”, ujar sang laki-laki dengan nada agak tinggi karena merasa anak didepannya berfikir keliru.
Umar menatap wajah laki-laki didepannya dengan tatapan yang sangat teduh,

”Bapak !, saya sudah sangat bersyukur atas berkah sekantong gorengan hari ini. Saya lapar dan bapak mengijinkan saya memakannya”, Umar memperbaiki posisi duduknya dan berkata kembali,

” Dan saya merasa berbahagia, bukankah bahagia adalah bersyukur dan merasa cukup atas anugerah hari ini, bukan menikmati sesuatu yang nikmat dan hebat hari ini tetapi menimbulkan keinginan dan kedahagaan untuk mendapatkannya kembali dikemudian hari.”
Umar berhenti berbicara sebentar, lalu diciumnya tangan laki-laki didepannya untuk berpamitan. Dengan suara lirih dan tulus Umar melanjutkan kembali,

”Kalau hari ini saya makan di restoran dan menikmati kelezatannya dan keesokan harinya saya menginginkannya kembali sementara bapak tidak lagi mentraktir saya, maka saya sangat khawatir apakah saya masih bisa merasakan kebahagiaannya”.

Pria tersebut masih saja terpana, dia mengamati anak kecil didepannya yang sedang sibuk merapikan koran dan kemudian berpamitan pergi.

”Ternyata bukan dia yang harus dikasihani, Harusnya aku yang layak dikasihani, karena aku jarang bisa berdamai dengan hari ini”

Selamat Menjalani Hari Dengan Penuh Rahmat


Cahyana Puthut Wijanarka

(People Developer)

Diam Bersama Tuhan

DIAM BERSAMA TUHAN

 

Di salah satu gereja di Eropa Utara, ada sebuah patung Yesus Kristus yang disalib, ukurannya tidak jauh berbeda dengan manusia pada umumnya. Karena segala permohonan pasti bisa dikabulkan-Nya, maka orang berbondong-bondong datang secara khusus kesana untuk berdoa, berlutut dan menyembah, hampir dapat dikatakan halaman gereja penuh sesak seperti pasar. Di dalam gereja itu ada seorang penjaga pintu, melihat Yesus yang setiap hari berada di atas kayu salib, harus menghadapi begitu banyak permintaan orang, ia pun merasa iba dan di dalam hati ia berharap bisa ikut memikul beban penderitaan Yesus Kristus. Pada suatu hari, sang penjaga pintu pun berdoa menyatakan harapannya itu kepada Yesus.

Di luar dugaan, ia mendengar sebuah suara yang mengatakan, “Baiklah! Aku akan turun menggantikan kamu sebagai penjaga pintu, dan kamu yang naik di atas salib itu, namun apapun yang kau dengar, janganlah mengucapkan sepatah kata pun.” Si penjaga pintu merasa permintaan itu sangat mudah.

Lalu, Yesus turun, dan penjaga itu naik ke atas, menjulurkan sepasang lengannya seperti Yesus yang dipaku diatas kayu salib. Karena itu orang-orang yang datang bersujud, tidak menaruh curiga sedikit pun. Si penjaga pintu itu berperan sesuai perjanjian sebelumnya, yaitu diam saja tidak boleh berbicara sambil mendengarkan isi hati orang-orang yang datang.

Orang yang datang tiada habisnya, permintaan mereka pun ada yang rasional dan ada juga yang tidak rasional, banyak sekali permintaan yang  aneh-aneh. Namun, demikian, si penjaga pintu itu tetap bertahan untuk tidak bicara, karena harus menepati janji sebelumnya.

Pada suatu hari datanglah seorang saudagar kaya, setelah saudagar itu selesai berdoa, ternyata kantung uangnya tertinggal. Ia melihatnya dan ingin sekali memanggil saudagar itu kembali, namun terpaksa menahan diri untuk tidak ber bicara. Selanjutnya datanglah seorang miskin yang sudah 3 hari tidak makan, ia berdoa kepada Yesus agar dapat menolongnya melewati kesulitan hidup ini. Ketika hendak pulang ia menemukan kantung uang yang ditinggalkan oleh saudagar tadi, dan begitu dibuka, ternyata isinya uang dalam jumlah besar. Orang miskin itu pun kegirangan bukan main, “Yesus benar-benar baik, semua permintaanku dikabulkan!” dengan amat bersyukur ia lalu pergi.

Diatas kayu salib, “Yesus” ingin sekali memberitahunya, bahwa itu bukan miliknya. Namun karena sudah ada perjanjian, maka ia tetap menahan diri untuk tidak berbicara. Berikutnya, datanglah seorang pemuda yang akan berlayar ke tempat yang jauh. Ia datang memohon agar Yesus memberkati keselamatannya. Saat hendak meninggalkan gereja, saudagar kaya itu menerjang masuk dan langsung mencengkram kerah baju si pemuda, dan memaksa si pemuda itu mengembalikan uangnya. Si pemuda itu tidak mengerti keadaan yang sebenarnya, lalu keduanya saling bertengkar.

Di saat demikian, tiba-tiba dari atas kayu salib “Yesus” akhirnya angkat bicara.

Setelah semua masalahnya jelas, saudagar kaya itu pun kemudian pergi mencari orang miskin itu, dan si pemuda yang akan berlayar pun bergegas pergi, karena khawatir akan ketinggalan kapal.

Yesus yang asli kemudian muncul, menunjuk ke arah kayu salib itu sambil berkata, “TURUNLAH KAMU! Kamu tidak layak berada disana.” Penjaga itu berkata, “Aku telah mengatakan yang sebenarnya, dan menjernihkan persoalan serta memberikan keadilan, apakah salahku?”

“Kamu itu tahu apa?”, kata Yesus. “Saudagar kaya itu sama sekali tidak kekurangan uang, uang di dalam kantung bermaksud untuk dihambur-hamburkannya. Namun bagi orang miskin, uang itu dapat memecahkan masalah dalam kehidupannya sekeluarga.  Yang paling kasihan adalah pemuda itu.  Jika saudagar itu terus bertengkar dengan si pemuda sampai ia ketinggalan kapal, maka si pemuda itu mungkin tidak akan kehilangan nyawanya. Tapi sekarang kapal yang ditumpanginya sedang tenggelam di tengah laut.”

Ini kedengarannya seperti sebuah anekdot yang menggelikan, namun dibalik itu terkandung sebuah rahasia kehidupan…

Kita seringkali menganggap apa yang kita lakukan adalah yang paling baik, namun kenyataannya kadang justru bertentangan. Itu terjadi karena kita tidak mengetahui hubungan sebab-akibat dalam kehidupan ini.

Kita harus percaya bahwa semua yang kita alami saat ini, baik itu keberuntungan maupun kemalangan, semuanya merupakan hasil pengaturan yang terbaik dari Tuhan buat kita, dengan begitu kita baru bisa bersyukur dalam keberuntungan dan kemalangan dan tetap bersuka cita. 

Amen.

Pages: Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 ...12 13 14 Next
Newer Entries »